Keluarga Penulis secara Garis Besar
Penulis memiliki latar belakang keluarga Suku Jawa tepatnya daerah Sleman dan Magelang. Penulis akan membagi keluarga dari pihak ayah dan ibu. Dari keluarga ibu, penulis akan membagi menjadi keluarga dari pihak nenek dan kakek. Alasannya karena penulis lebih banyak memiliki informasi dari keluarga ibu.
Dari pihak keluarga Ibu, Ibu penulis merupakah keturunan dari Trah Secodikoro, Trah Kartorejo, dan keluarga besar dari Pagerjuran. Semuanya berasal dari daerah Tambakrejo dan Caturharjo, Tempel
Dari pihak keluarga Ayah, Ayah penulis memiliki keluarga besar dari daerah Turi, Sleman, Yogyakarta.
Gambarannya seperti ini:
.png)
Menurut cerita nenek penulis, Mursiati, para orang dahulu memiliki nama tua. Nama kecil mereka atau nama pemberian dari orangtua akan diganti ketika sudah menikah dan dewasa. Maka, para simbah canggah penulis memiliki nama Kartorejo dan Secodikoro.
Keluarga penulis pada awalnya menganut agama kepercayaan yaitu "Kejawen". Para simbah terutama Mbah Kartorejo dan Mbah Secodikoro adalah penganut kepercayaan kejawen yang cukup kuat. Namun, anak-anak mereka menganut agama Islam, Katolik dan Kejawen. Keluarga besar mayoritas beragama Islam, tetapi tetap rukun dan terbuka dengan anggota keluarga yang beragama lain. Kakek penulis, Mbah Dirosumarto atau Mbah Diro beragama Katolik yang taat dan cukup kuat. Penulis kurang mengetahui bagaimana asal usul Mbah Diro bisa menganut kepercayaan Katolik dan beragama apa sebelumnya. Walaupun keluarga penulis memiliki perbedaan kepercayaan, keluarga tetap saling menghormati satu sama lain.
Dari bidang pekerjaan, leluhur penulis merupakan petani. Meski bertani, leluhur penulis juga menyambi pekerjaan lainnya seperti beternak. Para leluhur penulis dulunya memiliki banyak tanah seperti sawah. Pembaca mungkin cukup bingung atau terkejut bahwa Mbah Kartorejo dan Mbah Secodikoro bersaudara. Anak-anak mereka menikah yang berarti sepupu menikah dengan sepupu. Di zaman sekarang ini, pernikahan yang masih memiliki hubungan darah seperti itu tentu tidak diperbolehkan dan dianggap buruk. Kenyataannya, di zaman dahulu banyak pernikahan yang mempraktekan pernikahan semacam ini. Salah satu alasannya yaitu karena orang jawa percaya pada bibit (keturunan) bebet (status sosial ekonomi) bobot (kepribadian dan pendidikan) atau acuan untuk memilih pasangan hidup yang baik. Penulis menerka, mungkin tujuan leluhur penulis melakukan ini yaitu agar anak cucuya bisa hidup sejahtera.
Baik keluarga dari pihak Ayah dan Ibu penulis cukup terpandang oleh masyarakat desa. Ada beberapa faktor yang membuat mereka dihormati masyarakat kampung yaitu dari garis keturunan yang dianggap dari orang yang terpandang di masa lalu dan para leluhur penulis cukup "sakti" untuk ukuran orang-orang di masanya. "Sakti" yang dimaksud memang terkadang berkaitan dengan hal supranatural, tapi ada hal yang lain juga yaitu para mbah-mbah penulis senang berdoa, berpuasa, dan "prihatin".
Untuk lebih detail cerita dan latar belakang keluarga dapat dilihat di bagian Trah Secodikoro, Trah Kartorejo, dan Keluarga Dirosumarto.
Dari bidang pekerjaan, leluhur penulis merupakan petani. Meski bertani, leluhur penulis juga menyambi pekerjaan lainnya seperti beternak. Para leluhur penulis dulunya memiliki banyak tanah seperti sawah. Pembaca mungkin cukup bingung atau terkejut bahwa Mbah Kartorejo dan Mbah Secodikoro bersaudara. Anak-anak mereka menikah yang berarti sepupu menikah dengan sepupu. Di zaman sekarang ini, pernikahan yang masih memiliki hubungan darah seperti itu tentu tidak diperbolehkan dan dianggap buruk. Kenyataannya, di zaman dahulu banyak pernikahan yang mempraktekan pernikahan semacam ini. Salah satu alasannya yaitu karena orang jawa percaya pada bibit (keturunan) bebet (status sosial ekonomi) bobot (kepribadian dan pendidikan) atau acuan untuk memilih pasangan hidup yang baik. Penulis menerka, mungkin tujuan leluhur penulis melakukan ini yaitu agar anak cucuya bisa hidup sejahtera.
Baik keluarga dari pihak Ayah dan Ibu penulis cukup terpandang oleh masyarakat desa. Ada beberapa faktor yang membuat mereka dihormati masyarakat kampung yaitu dari garis keturunan yang dianggap dari orang yang terpandang di masa lalu dan para leluhur penulis cukup "sakti" untuk ukuran orang-orang di masanya. "Sakti" yang dimaksud memang terkadang berkaitan dengan hal supranatural, tapi ada hal yang lain juga yaitu para mbah-mbah penulis senang berdoa, berpuasa, dan "prihatin".
Untuk lebih detail cerita dan latar belakang keluarga dapat dilihat di bagian Trah Secodikoro, Trah Kartorejo, dan Keluarga Dirosumarto.
Comments
Post a Comment